Rabu, 01 Maret 2017

Polisi Harus Sabar


BERSIKAP sabar saat menghadapi pengendara lalu lintas yang melanggar, menjadi jurus paling ampuh paling meyadarkan mereka. Apalagi, yang menyampaikan teguran seorang polwan cantik seperti Fitri Surya Warih.


Atur Waktu untuk Keluarga

Kapala Jawa Pos Radar Jember, polwan berangkat Brigadir Polisi itu mengaku selalu melempar senyuman terlebih dahulu, sebelum menilang pelanggar lalu lintas. Bahkan meski harus bersikap tegas, dia lebih memilih membuat pelanggar yang ditangani segan.

Polwan berumur 28 tahun itu bukan berarti tidak pernah menemui pelanggar lalu lintas yang pemarah. Meski sudah nyata-nyata salah, pelanggar itu masih saja berani marah petugas seperti dirinya. "Saya hadapi dengan senyuman. Setelah bersangkutan tidak lagi emosional, baru saja beri penjelasan," terangnya.

Integritas anggota polisi memang selalu dipegang teguh oleh polwan asal Tanggul tersebut. Bahkan dia enggan menerima uang damai, yang sering ditawarkan pelanggar lalu lintas di jalanan. Dia sadar, jika tergius suap jalanan, nama baik korps yang dia banggakan bakal tercoreng dimata masyarakat.

Dia pun selalu membawa buku tilang. Harapannya, supaya pelanggar mempertanggungjawabkan kesalahannya di  pengadilan. Sebab jika denda tilang terbayar, pemasukan uang negara bisa bertambah yang kemudian dikelola kembali untuk pembangunan bangsa.

Menurut Fitri, meski negara menerima pemasukan dari uang pelanggar lalu lintas, namun sejatinya dia enggan. Dia tetap menambakan pengendara lalu lintas yang tertib aturan. Sebab sadar berlalu lintas mampu menekan kasus kecelakaan di jalan. "Demi keselamatan dirinya sendiri dan pengguna jalan yang lain, maka jadilah pelopor keselamatan berlalu lintas," sarannya.

Sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anaknya, membuat Brigpol Fitri harus pandai mengatur waktu. Sebab tidak jarang waktu yang seharusnya dia gunakan untuk kaluarga, harus dia relakan demi kepentingan tugas negara. Beruntung, sang suami juga seorang anggota polisi. "Suami sangat menyadari. Hanya anak uyang sempat protes," akunya smbil melempar senyuman.

Betapa tidak, pagi sekitar pukul 05.30 dimana ibu lainnya sedang sibuk-sibuknya meladeni kebutuhan anaknya di rumah, dia sudah harus ada di jalan raya mengatur lalu lintas. Balum lagi jika ada tugas mendadak. Pulang malam pun untuk kepentingan masyarakat, dia kerjakan dengan sepenuh hati. SEmua dia lakukan demi kenyamanan, ketertiban dan keamanan masyarakat. (rul/cl/hdi)

Sumber : Jawa Pos Radar Jember, 21 Juli 2016


Disalin Kembali Oleh : (Yn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar